Selasa, 23 Juli 2013

Artikel Air

DEFINISI  AIR

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi,[1][2][3] tetapi tidak di planet lain.[4] Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di Bumi.[5] Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan,hujansungaimuka air tawardanauuap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapanhujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata airsungaimuara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia.
Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di Bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutubutara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan Bumi dalam ketiga wujudnya tersebut.[6] Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. [7]Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Selasa, 08 Januari 2013


Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua bijak. Pada suatu pagi datanglah anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Tamu itu tampak seperti orang yang tidak bahagia. Tanpa buang waktu, pemuda itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama, Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam ke dalam gelas lalu diaduk perlahan.
“Coba minum dan katakan bagaimana rasanya.” Ujar Pak Tua.
“Pahit. Pahit sekali.”Jawab sang tamu sambil meludah kesamping. 

Pak Tua sedikit tersenyum, Ia lalu mengajak tamu menuju tepi telaga yang tenang.
Pak Tua lalu menaburkan segenggam, kedalam telaga, dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk-aduk.

 “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah, dan katakan bagaimana  rasanya.”
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam dari di dalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak Pak Tua itu menepuk punggung si pemuda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh di tepi telaga.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya adalah sama, dan memang tetap sama. Kepahitan yang kamu rasakan, akan sangat tergangung pada wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu.”

Pak Tua itu meneruskan. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang.Mereka sama-sama belajar hari itu, Pak Tua kembali menyuimpan “segenggam garam” untuk anak muda lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.